Jangan Golput, Ayo #MantapMemilih!



Jakarta - Gunakan hak suara di TPS 17 April sebagai bentuk partisipasi dalam memilih pemimpin negeri. Jangan golput!

Ada dua pilihan pasangan capres-cawapres, yakni yang bernomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin dan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Kampanye dan debat sudah diselenggarakan, saatnya masing-masing rakyat memantapkan pilihan. Untuk Pemilu Legislatif, pelbagai spanduk caleg telah terpasang dari pinggir pantai hingga puncak gunung.

"Pemilih adalah pemilik kedaulatan negeri ini. Maka gunakan lah hak pilih dalam Pemilu 2019," ujar komisioner KPU Wahyu Setiawan, Sabtu (13/4/2019).



Dari sejumlah orang yang ditemui detikcom, kebanyakan mengaku akan memilih di tanggal 17 April, meski mengaku masih 'mencari' capres yang pas.

Tapi beda keputusan dengan Ali (17). Dia memilih golput karena banyak temannya yang juga golput.

Debat capres-cawapres pun tak membuat Ali 'luluh' untuk nyoblos. "Cuma janji-janji doang, saya nggak milih," kata Ali.

Jangan Golput, Ayo #MantapMemilih!Jokowi (Dok. FB Jokowi-Amin)

Jokowi sendiri menyatakan tak ingin ada golput di Pemilu 2019. Dia mengajak pendukungnya untuk memastikan lingkungan sekitar. Pemilu 2019 menghabiskan Rp 25,29 triliun. Rugi besar jika masyarakat tidak berpartisipasi untuk menyalurkan hak suaranya.



"Di setiap forum besar, forum sedang, dan kecil saya selalu sampaikan, jangan sampai, jangan biarkan satu orang pun golput. Jangan sampai biarkan satu orang pun golput," kata Jokowi, Jumat (29/3/2019).

Dorongan pentingnya Pemilu 2019 juga disampaikan cawapres Sandiaga Uno. Masa depan anak muda menurutnya juga ditentukan oleh Pemilu 2019.

"Ini pilpres tentang masa depan, masa depan anak-anak muda masa depan teman-teman semua," kata Sandiaga, Minggu (7/4).

Jangan Golput, Ayo #MantapMemilih!Sandiaga Uno (Ibnu Hariyanto/detikcom)

Bahkan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini punya cara tersendiri untuk mengampanyekan tak golput di Pemilu 2019. Lewat video blog (vlog) yang diunggah di Instagram Bangga Surabaya, Risma meminta anak muda untuk ikut mencoblos.

"Hei anak-anak milenial kalian ndak boleh terlambat dan golput karena ini akan menentukan masa depan kita lima tahun ke depan," kata Risma seperti dalam vlognya, Rabu (9/4).

Sementara, Komandan Komando Satuan Tugas Bersama Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menyoroti fenomena golput dengan munculnya capres-cawapres fiktif nomor urut 10, Nurhadi-Aldo alias Dildo. Fenomena 'capres meme' itu dilatarbelakangi oleh kejenuhan warganet akan gaduhnya para elite di sirkuit persaingan Pemilu.

"Rakyat saat ini sudah lelah dengan gesekan-gesekan dengan friksi-friksi atau gesekan-gesekan politik yang terjadi. Munculnya satir capres alternatif Nurhadi-Aldo di media sosial dan cukup besarnya potensi golput adalah indikasi kejenuhan masyarakat terhadap politik dan demokrasi saat ini," kata AHY, Jumat (1/3).



Bagaimana bila pilihan yang disajikan di Pilpres dan Pileg 2019 tidak ada yang sesuai dengan kriteria ideal calon pemilih? Problem ini sudah klasik. Ada teori yang tak kalah klasiknya, yakni etika 'lesser evil' dari Hans Morgenthau (1904-1980) untuk menentukan keputusan di atas pilihan-pilihan yang buruk.

"Jadi, strategi moral politik (yang tepat) adalah memilih yang paling sedikit unsur keburukannya," demikian kata Morgenthau dalam tulisan Sean Molloy di Journal of International Political Theory.

Pendiri dan Peneliti Utama Network for Democracy and Electoral Integrity (Netgrit), Hadar Nafis Gumay, memahami problem ini. Orang-orang yang melihat semua calon sama-sama buruk cenderung menjadi kaum golput. Cara pandang seperti ini perlu diperbaiki.

"Kita pilih yang lebih baik dari calon yang ada, jangan malas berpikir, lihatlah lebih dalam. Ada hal yang bisa kita pilah-pilah, ada gradasi dari yang paling baik, baik, buruk, dan sangat buruk," kata Hadar kepada detikcom, Jumat (12/4/2019).

Bahkan, sikap golput berisiko memuluskan jalan untuk sosok yang paling tidak dinginkan oleh kaum golput itu sendiri. Memilih yang terbaik berarti mencegah yang terburuk berkuasa. Bila kaum golput tak ikut mencegah yang terburuk untuk berkuasa dengan cara memilih di Pemilu, maka sosok yang terburuk itu bisa saja terpilih. Hadar menyarankan agar calon pemilih memantapkan pillihan. Jangan golput!

"Bagaimanapun juga, memilih adalah lebih baik ketimbang golput. Kalau kita tidak memilih maka calon yang paling buruk lebih berpotensi terpilih. Itu akibat kita tidak hadir menyuarakan aspirasi kita," kata Hadar.



(dnu/fdn)

0 Response to "Jangan Golput, Ayo #MantapMemilih!"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel